bLink

Wednesday, November 30, 2011

-Sedikit Tentang Cinta-




Tuhan menanamkan cinta di hati manusia, untuk MENGUJI mana yg LEBIH DICINTAInya Tuhannya kah ato justru ciptaan-Nya ?!

Cinta ?? Apa itu Cinta ??

Cinta adalah sesuatu yg apapun kamu lakukan untuk apa yg km cintai TIDAK AKAN PERNAH MEMBEBANIMU bahkan justru sebaliknya MENYENANGKANMU..

contoh : cinta boneka, brpa pun mahalnya harga boneka psti akan dibeli dan hal itu tdk akan pernah ada beban di hati kita bahkan qta merasa puas dan senang lantaran hati tlah dipenuhi dg Cinta

contoh lg : cinta melukis, melukis kpn pun pagi, siang, mlm, ga kan prnh ada rasa cape, mengeluh, kesal bahkan justru gembira lantaran hati tenggelam dlm Cinta

contoh lg: cinta pacar, pg siang mlm ktmu ga da bosen, apapun dilakukan bwt sang pcr, ngabisin duit brp pun tanpa ada beban bahkan justru suka lantaran hati berpendar cinta

smua contoh2 diatas adalah sbagian dari bentuk cinta dunia,tak ada masalah mencintai apa pun dan siapa pun no problem, namun yg jd masalah...siapa yg LEBIH patut dan LEBIH berhak untuk DICINTAI...??
*garis bawahi y kata "LEBIH"

Ada yg lagi jatuh Cinta ??

Hohoho..Sesungguhnya Allah sedang mengujimu dg cinta itu.. Karna stiap cinta akan membuat hati lalai dan karam.. Cinta bagaikan lautan yg siap menghanyutkan dan menenggelamkan hati dan fikiranmu dlm lautan itu..

pernah liat acra Playboy KabeL d SCTV ?? Hoho.. stiap org memang bebas dan mudah mengatakan "aku cinta kamu" .. tapi benarkah ia SUNGGUH2 mencinta ? Untuk MEMBUKTIKANNYA maka pasangannya MENGUJINYA dg dipertemukan dg cewe yg lebih cantik dan menarik hehe..n kebanyakan pesertanya gagal alias cinta di bibir doank dan hatinya lebih terpaut kpd yg membuatnya lebih terpukau hehe..

kira2 seperti itulah Tuhan menguji hamba-Nya..stiap org bebas mengatakan "aku cinta Allah" ..tapi apakah benar ia tlah SUNGGUH2 MENCINTA-Nya ? untuk MEMBUKTIKANnya maka Tuhan pun MENGUJInya
dg apapun yg bs membuat hati jd lalai dan hanyut seperti pacar, harta, anak, dll..
smua itu adalah hal2 yg memukau namun sesungguhnya penciptanya lah yg lebih memukau (bila qta mau berfikir :p)

kadang ada yg slalu ditinggalin, diselingkuhin pacarnya, ato hartanya slalu merugi/berkurang, dll. Seolah2 jd masalah besar n bkin stres.. PADAHAL ada HIKMAH dibalik itu.. Yaitu Sang Maha Pecinta sedang Cemburu.. Cemburu kalau2 hati hamba-Nya LEBIH terpaut dg pacarnya, hartanya daripada dg yang memberinya kehidupan yang mengkaruiakannya panca indera, yang slalu menganugrahkannya nikmat...karna Dia adalah Sang Pencemburu.. Cemburu bila Cinta-Nya terbagi dua.. Maka bila kita sedang mengalami hal2 demikian itu bahwasanya Allah sedang menawarkan cinta-Nya.. Seolah2 Dia mengatakan :

"Cintailah Aku daripada smua hal itu.., Aku menyingkirkan smua itu darimu karna hal itu hanya kan menjadi penghalang cintamu pada-Ku.. Ketahuilah sgala sesuatu yg kamu cintai selain Aku akan musnah, hancur menjadi debu..lantas mengapa Engkau harus mencintai yg kan menjadi debu sedang Aku setia dan abadi menyertaimu.. Sebenarnya tujuan dari hidupmu adalah Aku atau debu ?? Aku bisa saja membinasakanmu kapan saja tapi sesungguhnya Kasih Sayang-Ku mendahului Murka-Ku.. Maka balaslah Kasih-Ku dg cintamu kepada-Ku.. Sungguh Aku cemburu bila hatimu lebih terpaut pada sgala sesuatu selain-Aku " :)

Wallahua'lam

-sekian-

Sunday, October 30, 2011

-Letak Bahagia-



Malem hari di wktu Isya' ..Btapa terkejutnya q ktika mengajari tetangga muter music n vid. d leptop..hal yg amat sangat sepele menjadi luar biasa "wah!" di matanya.. Hingar bingar ceria di wajahnya hanya krna sbuah hal yg biasa..

Aneh..! Mengapa terkadang hal2 yg sepele & biasa.. mampu menciptakan bahagia yg luar biasa bg org seseorang namun tak bisa ikut kurasakannya ?!

Sperti halnya duit Rp.5 rb bs menjadi sujud syukur bg seorang pengemis yg klaparan.

Segenggam uang RECEH yg ditebarkan di hadapan pengemis pinggir jalan mampu mencairkan kebekuan wajah menciptakan tampang yg berseri-seri dipipinya..

Dimana letak bahagia sesungguhnya ???

Sepotong baju USANG bisa memberi bahagia yg luar biasa bg gelandangan yg kedinginan tiada sandangan.

Dimana letak bahagia sesungguhnya ???

Mungkin bagimu & bagiku bisa muter musik tiap hari, tapi apa itu bisa menciptakan rasa bahagia yg LUAR BIASA sprti tetanggaku yg br ngerti crnya muter musik??

Mungkin duit 5rb cukup bwt beli smangkok bakso, tp apa smangkok bakso bs menciptakan rasa BAHAGIA YANG LUAR BIASA bwt qta sperti yg dirasakan pengemis klaparan ktika dpt duit 5rb??

Mungkin pake baju usang bukannya bahagia tp justru qta malu..(hahaha..) tp hal itu justru membuat rasa bahagia yg LUAR BIASA bagi gelandangan yg tak punya baju

Dimana letak bahagia sesungguhnya ???

Tak ada bedanya sebentuk "bahagia" yg kurasakan dg yg mreka rasakan..sumringah yg sama..lengkung senyum yg sama..berbunga2 hati yg sama..tawa yg sama.. Bahkan mungkin bila ada alat pengukur kadar bahagia, kadar bahagia yg mreka rasakan bisa jauh lebih DAHSYAT rasanya..lebih BERBUNGA2 dihatinya.. Rasa Syukur mreka pun bs jauh lebih HEBAT pernyataannya..

Mungkin dahsyatnya rasa bahagia yg mreka rasakan, bisa sepadan dg rasa bahagia yg q rasakan bila andaikata tiba2 q dpt hadiah sbuah mobil (wahahahah..) Pastilah dahsyat senangnya bahagianya jd spadan dg yg mreka rasakan ktika mreka dpt bju usang, ato segenggam uang receh weww :p

ini artinya scr matematis dpt ditulis :
Sepotong baju usang = Segenggam uang receh = Sebuah mobil = Kadar Bahagia yg sama

???

Hal2 sepele..Bs muter musik n vid d leptop, Duit 5rb, Segenggam receh, sepotong bju usang, hal2 yg sepele tp bs sama2 menciptakan dahsyatnya RASA BAHAGIA YANG SAMA..sperti halnya dpt hadiah sbuah mobil ?? Berjuta kegalauan pun seakan sirna.. tumpukan kesedihan seakan hilang..

Bnr2 Luarbiasa rahasia hati ini.. Disinilah letaknya..Letak bahagia yg sesungguhnya yg sejatinya ada dlm hati masing2..hati yg merasa dirinya rendah..

Coba sungkurkan kepala diatas tanah liatlah disekeliling ada kursi, meja dll. nampak tinggi..
Coba naek k atap genteng liat lagi kursi, meja yg tdnya nampak tinggi jd nampak rendah...

Mungkin itulah sebabnya Tuhan menyuruh kita slalu MERENDAHKAN DIRI.. agar nampak TINGGI nan AGUNG stiap pemberian & karunia-Nya.

ga percaya?

klo tak percaya, pejamkan mata! Renungkan anggaplah diri kita seorang yg awal mulanya gelandangan yg tak punya apa pun..resapi dlm HATI baik2..rasakan DALAM HATI kita bnr2 seorang yg jelata hidup d emperan2 toko,klaperan, makan shari skali, kedinginan.., tak ada duit sm skali..hidup slalu dicemooh, ditindas.. Tak ada siapa2, tak ada orang tua, tak ada saudara, cuma sebatang kara..

STOP !! JANGAN TERUSKAN MEMBACA BILA BELUM BENAR2 MERASAKAN KEHIDUPAN DIRI INI SBG KEHIDUPAN SEORANG GELANDANGAN SPERTI DI ATAS.

KALO HATI BENAR2 UDA MENJIWAI & MERASAKAN KEIDUPAN MEREKA..

Lalu skrng buka mata.. Lihat depanmu tiba2 ada Hp, ada Leptop/PC, Rumah yg nyaman, Tv, Kasur yg empuk, Motor, Frezer, Dvd, ada adek, kakak, ortu, sodara..dll..

Subhanalloh.. Masih ta bisa kah merasakan bahagianya ?? Klo msh ta bisa mungkin hati trlalu senang diatas tak mau turun...turunkanlah..turunkan hati..rendahkanlah.. Bahwasanya kehidupan kita masih jauh lebih baik daripada kehidupan org2 dibawah kita.. Rasakanlah..keadaan yg LEBIH BAIK itu.. Resapilah Bahagia itu.. Smakin hati bisa merendahkan diri maka kadar bahagia itu akan semakin menguat!!

msh ga prcaya?

coba liat org cacat, org buta, org yg ga punya mata, ga punya tangan ato kaki..rasakan kehidupan yg mreka rasakan..coba rasakan rasanya ga punya mata (pejamkan mata truz) smuanya gelap hitam

liat diri kita..punya mata..lirik sana lirik sini.. subhanallah.. Masih tak bisakah merasakan BAHAGIA??

buta mata lebih baik keadaanya drpd buta hati.. Karna pabila hati tlah buta.. Tak kan pernah bisa merasakan BAHAGIA
.^_^.

Friday, March 4, 2011

-Rahasia Hati-

4/03/2011 23:43



Malam dingin dg girimis membasahi.. aku belajar tentang sesuatu di malam ini, belajar dari seorang yang buta tapi di hatinya selalu ada harapan, cinta dan bahagia.


Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku merasakan apa yang dia rasakan ?? Ketika dunia yang terang benderang menjadi petang penuh kegelapan. Ketika senyum2 manis nampak dihadapan menjadi tirai hitam yang tak terbukakan. dan Ketika keindahan2 yg terlihat mempesona & gemerlapan menjadi ruang kosong tanpa pencahayaan.


Maka sudah tak sepantasnya lagi sedih dalam keluhan ketika pengelihatanmu masih bisa menampakkan. Hanya saja bagaimana dia yg tertutup segala keindahan masih bisa merasa dalam bahagia, cinta, dan harapan ???


Mungkin jawabnya adalah karna dia masih memiliki “h.a.t.i”, keindahannya ada di dalam hati, kebahagiaannya ada di dalam hati, harapannya ada di dalam hati, cintanya pula ada di dalam hati. . sgala kehidupannya ada di dalam HATI.


Ada yang masih memiliki penglihatannya namun dia tak bisa merasakan keindahan. . tak mampu meresapi kebahagiaan.. selalu dalam amarah & keluhan..seakan-akan tak memiliki kehidupan, padahal di matanya mengalir anugrah yg tak terkirakan.


Sekali saat cobalah untuk tak melihat dengan mata.. karna sebenarnya ketika mata ini terbuka yang nampak adalah keserakahan. Hidup tapi tak merasakan kehidupan.. bahkan serasa dihantui kehidupan.


Ketika km sanggup tuk tak menggunakan matamu .. maka amarah, benci , dendam, kesedihan, keluhan tak kan lagi dapat kau rasakan.. karna matamu telah “buta” dalam sgala tatapan. . . .


"Cobalah menutup mata ini. . . seperti seorang buta rasakan segalanya dengan H.A.T.I karna disanalah letak kehidupan yg sejati" ^_^

Thursday, February 10, 2011

- KISAH DUA ORANG SAHABAT DAN POHON KURMA -

KISAH DUA ORANG SAHABAT DAN POHON KURMA -



Pernah suatu hari, telah dikhabarkan kisah dua orang sahabat yang sangat indah. Semenjak keduanya bersahabat, mereka tidak pernah bertengkar, masing-masing amat menjaga hati masing-masing. Indahnya lukisan kehidupan mereka, jika hendak dikhabarkan seribu satu kisah cinta, langsung tak tertanding dengan kisah persahabatan mereka. Allah menaungi ukhwah kedua-dua sahabat ini, langsung tak terusik oleh syaitan dan iblis. Mereka berbagi kisah suka dan duka, tawa dan tangis bersama, susah dan senang, sakit dan sehat bersama, dan segala sesuatu mereka sandarkan kepada Allah SWT. Hinggalah pada suatu hari, di tepian pantai, sedang keduanya asyik bercerita kisah hidup masing-masing,

maka sahabat I bertanya kepada sahabat II;

“Semoga Allah memberkatimu wahai sahabatku sehati sejiwa. Persaudaraan kita bukan suatu kebanggaan, bukanlah suatu kesenangan. Orang ramai mendoakan kita. Sehingga ke hari ini, apakah kamu masih mengaku aku sebagai sahabat seperjuanganmu?”

Sahabat II menjawab, “Semoga Allah memberkati mu jua. Tanpa Allah siapalah aku, aku bersyukur dengan nikmat pemberian Allah yang tak ternilai di hadapan mataku ini. Dia utuskan kamu untuk menyinari hidupku, memadam kesan-kesan hitam dalam hidupku, menyiram aku dengan curahan air cinta kepada Yang Satu. Mana mungkin tidak aku mengaku kau sebagai sahabat seperjuanganku. Inilah tekadku, aku amat bersyukur ke hadrat Allah kerana dikurniakan sahabat sepertimu..”

“Sesungguhnya iblis dan syaitan amat benci pada kita. Mereka benci kerana kita berkasih sayang kerana Allah. Sampai sekarang, mereka masih gagal. Namun mereka tak pernah berputus asa. Jarum kedengkian, hasad, fitnah, tuduh-menuduh, riya’ dan takbur serta ‘ujub akan mereka cucuk supaya dapat memisahkan persaudaraan kita. Apakah kau tidak takut wahai sahabatku?” Tanya sahabat I.

Dengan tenang, sahabat II menjawab, “InsyaAllah, aku yakin dengan peliharaan Allah SWT kepada kita hingga ke hari akhirat nanti. Semoga ditetapkan hati kita tidak lain hanya kerana Allah SWT, serta dijauhi dari sifat-sifat tersebut. Na’uzubillah…”

Maka kedua-dua sahabat itu pun berdoa bersama-sama. Memanjatkan kesyukuran ke hadrat Allah SWT. Segala penduduk langit dan bumi mendoakan kebahagiaan mereka berdua.

Ditakdirkan pada suatu hari, sedang kedua-dua sahabat itu bersiar-siar di sebuah taman, sambil bertasbih memuji Allah SWT, mengagungkan kebesaran Allah SWT, tiba-tiba mereka terlihat sebuah pohon kurma yang lebat buahnya. Telah diketahui bahawa taman itu adalah taman yang tidak bertuan milik, dan pengunjung bebas memetik buah-buahan di situ. Maka sahabat II memohon izin kepada sahabat I untuk pergi memetik buah kurma tersebut. Maka dipetiknya beberapa biji sahaja, sekadar mengisi perut yang lapar.

Maka keduanya menikmati buah kurma tersebut dengan penuh kesyukuran. Tiba-tiba sahabat I bersuara, “Maafkan aku sahabatku. Baru sahaja aku teringat bahawasanya pohon ini bertuan milik. Kita telah makan buah kurma milik orang lain. Adalah suatu dosa bagi kita memakan sesuatu yang bukan halal bagi kita tanpa kita meminta izin terlebih dahulu. Salah aku kerana terlambat memberitahumu.”

“Benarkah? Jikalau begitu, kita telah dikira mencuri. Astaghfirullahal azim, aku merasa bersalah kerana memetik buah itu. Apa harus kita buat? Patutkah kita memberitahu tuan punya milik pohon tersebut akan kesalahan kita?” Sahabat II bertanya.

“Tidak, aku tak mampu memikirkan jalan penyelesaian buat masa sekarang. Hakikatnya memang salah aku. Aku merasa berdosa yang teramat sangat.” Keluh sahabat I.

“Jangan risau sahabatku fillah. Allah bersama orang-orang yang benar. Kita harus berlaku jujur. Mari kita berjumpa dengan tuan pemilik pohon ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kita. Moga tuan milik pohon ini menghalalkan kita kerana memakan buahnya. Aku rela bekerja seumur hidup jika disuruhnya begitu, demi menghalalkan apa yang telahku makan ini. Aku lebih takutkan seksaan Allah SWT.” Sahabat II memujuk sahabat I.

Namun, sahabat I enggan menuruti sahabat I. Dia berasa amat bersalah kerana gagal memberitahu perkara sebenar tentang pohon tersebut.

“Bagaimana jika tuan pemilik pohon ini enggan menghalalkan buah yang telah kita makan ini?” Tanya sahabat I.

Sahabat II termenung seketika. Dia mulai ragu-ragu.

“Aku punya pendapat bahwa kita tak perlu berjumpa dengan tuan pemilik pohon ini. Aku khuatir dia enggan memaafkan kita. Maka seluruh darah dan daging kita tidak halal di sisi Allah.” Sahabat I memberi pendapat.

“Kalau begitu, sama sahajalah pengakhirannya. Lebih dahsyat lagi Allah murka atas perbuatan kita. Dia melihat perbuatan kita, Dia tahu yang kita telah melakukan maksiat dan cuba menyembunyikannya. Aku amat takut. Sebaiknya kita berjumpa tuan pemilik pohon ini. InsyaAllah dengan rahmat Allah, tuan pemilik pohon ini memaafkan dan menghalalkan apa yang telah kita makan. Aku tak mahu tergolong dalam kalangan orang yang dilaknat oleh Allah SWT di akhirat kelak nanti.” Sahabat II meyakinkan sahabat I.

“Kalau begitu, engkau pergi seoranglah. Aku tidak mahu. Sebagai sahabatku, harap kau jangan laporkan kepadanya yang aku turut sama makan buah kurma itu ya. InsyaAllah suatu hari nanti aku akan cuba bertaubat kepada Allah SWT atas kesalahanku ini. Mudah-mudahan Dia mengampuni aku. Aku belum cukup kuat berjumpa dengannya,” kata sahabat I.

Sahabat II amat terkejut dengan pendirian sahabat I. Lalu dia berkata, “Astaghfirullah, bukan dengan cara begini, Allah akan ampunkan dosa kita wahai sahabatku. Kelak akan dipersaksikan di akhirat kelak akan perbuatan terkutuk kita!”

“Ya aku faham. Tapi aku merasakan inilah jalan penyelesaian terbaik. Kita bertaubat sahaja. Allah akan mengampuni dosa kita. Pintu taubatnya sentiasa terbuka bagi hambaNya yang bertaubat kepadaNya.” Sahabat I masih enggan.

“Wahai sahabatku, janganlah kita dihina di hadapan Allah kelak atas perbuatan kita ini. Aku sebagai sahabatmu tidak sanggup melihat sahabatku ini menjadi penghuni neraka hanya kerana hal yang kecil sebegini. Islam mengajar kita supaya berlaku jujur!” tegas sahabat II.

“Ah, peduli amat! Aku tidak mahu berjumpa dengan tuan pemilik pohon ini. Lagipun sama sahaja kalau dia enggan menghalalkan apa yang telah kita lakukan ini. Kau mahu pergi, kau pergilah, aku tetap dengan pendirianku! Biarkan aku! Kalau kau rasakan aku tidak layak menjadi sahabatmu kerana ‘dosa’ku pada pandanganmu, maka biarkan aku!” Pengakuan sahabat I ini membuatkan sahabat kedua terkejut. Dia tidak menyangka bahawa kata-kata tersebut akan keluar dari mulut sahabatnya itu.

Tiba-tiba sahabat II menangis. Maka dengan perlahan dia berkata kepada sahabat I, “Sungguh aku tak sangka dengan pendirianmu ini. Kau telah berubah, astaghfirullah, syaitan benar-benar telah mempengaruhimu. Aku masih ingat kau pernah bertanya kepadaku suatu ketika dahulu, apakah aku tidak takut akan jarum-jarum syaitan yang akan memisahkan persaudaraan kita? Aku meyakinkanmu dengan jawapanku. Aku yakin dengan peliharaan Allah. Tapi, memang benar apa yang dikatakanmu. Kau telah berubah. Jarum syaitan telah menusuki tubuhmu. Aku sangat kecewa dengan perubahan dalam dirimu.”

“Kau sudah tidak memahamiku lagi. Kau benar-benar bukan sahabatku. Maka terpulanglah, pergilah kau kepada tuan si pemilik pohon. Aku dengan pendirianku ini. Mulai hari ini, kita bukanlah sahabat sejati,” kata sahabat I.

“Baiklah, pergilah engkau dengan sikap engkau itu. Aku benar-benar kecewa. Jika benar kau membenciku, maka tinggalkanlah aku di sini. Aku tak sanggup melihatmu dengan pendirianmu ini. Aku tak rela sahabatku berubah jadi begini. Kau telah mendustai kata-katamu suatu ketika dahulu. Mulai hari ini, aku terima permintaanmu, kita bukan lagi sahabat. Pergilah engkau bertaubat, semoga Allah mengampuni engkau,” maka sahabat II menangis. Lalu sahabat II pergi dari situ. Kebencian merajai segenap hatinya….

Di dalam sebuah gua, terdengar tangisan teresak-esak seorang lelaki. Suara laksana orang sedang berdoa.

“Ya Allah, memang benar apa yang aku alami. Sahabatku benar-benar membenciku kerana kejahatanku. Dia benar-benar sudah tidak mengakuiku sebagai sahabatnya. Apabila aku berlagak seperti seorang pengkhianat, dan aku berlakon seperti seolah-olah aku menafikannya sebagai sahabatku, maka memang benar dia menolakku. Sudah ku duga bahawa dia mengakui aku sebagai sahabatnya hanya kerana kebaikan yang ada padaku. Apabila aku jahat, maka aku bukan lagi sahabatnya. Dia tidak berusaha mendapatkanku. Ku harapkan dia mengejarku, namun dia menghukum aku sebagai pendusta pula. Ya Allah, namun begitu, aku menghalalkan apa yang telah dimakannya, akulah pemilik pohon kurma itu, ampunilah dosa sahabatku ini.”

Sahabat I tunduk sujud dan menangis dalam gua yang gelap gelita itu

-KISAH KEIKHLASAN TAK PERNAH DI SIA-SIAKAN ALLAH-

KEIKHLASAN TAK PERNAH DI SIA-SIAKAN ALLAH



Dari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki menceritakan kepadaku: “Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepal kawannya. Ia lalu bertanya, ‘Ada apa?’ Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.

Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, ‘Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?’ Ia pun mengiakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, ‘Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar!’ Maka sang isteri segera mengurus ikan tersebut. Lalu dibelahnya perut ikan tersebut. Tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut

Wanita itu pun berkata gembira, ‘Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil daripada telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara’.

Suaminya berkata, ‘Perlihatkanlah kepadaku!’ Maka ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya sepanjang hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata kepad isterinya, ‘Tahukah engkau berapa nilai meutiara ini?’ ‘Tidak, tetapi aku mengetahui siapa orang yang pintar dalam hal ini’, jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu. Ia segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia menghampiri kawannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicar kepadanya seraya mengeluarkan sesuatu sebesar telur burung dara. ‘Tahukah Anda, berapa nilai ini?, ia bertanya. Kawannya memperhatikan barang itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, ‘Aku menghargainya 40 ribu. Jika Anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga kepadamu. Tapi jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, dia akan memberimu harga lebih tinggi dariku’.

Maka ia pun pergi kepadanya. Orang itu memperhatikan barang tersebut dan mengakui keelokannya. Ia kemudian berkata, ‘Aku hargai barang itu 80 ribu. Jika Anda menginginkan harga lebih tinggi, pergilah kepada si fulan, saya kira dia akan memberi harga lebih tinggi dariku’.

Segera ia bergegas menuju kepadanya. Orang itu berkata, ‘Aku hargai barang itu 120 ribu. Dan saya kira, tidak ada orang yang berani menambah sedikitu pun dari harga itu!’ ‘Ya’, ia pun setuju. Lalu harta itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, ia membawa dua belas kantung uang. Pada masing-masingnya terdapat 10.000 dirham. Uang itu pun ia bawa ke rumahnya untuk disimpan. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, ‘Saya punya kisah, karena itu masuklah’. Orang itu pun masuk. Ia berkata, ‘Ambillah separuh dari hartaku ini. Maka, orang fakir itu mengambil enam kantung uang dan dibawanya. Setelah agak menjauh, ia kembali lagi seraya berkata, ‘Sebenarnya aku bukanlah orang miskin atau fakir, tetapi Allah Ta’ala telah mengutusku kepadamu, yakni Dzat yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikanNya kepadamu adalah baru satu qirath daripada-nya, dan Dia menyimpan untukmu 19 qirath yang lain

KISAH SEBUAH NILAI DUNIA



Suatu hari, Nabiyullah Isa AS melakukan perjalanan dengan seorang temannya. Mereka hanya berbekal tiga potong roti. Ketika sampai di suatu tempat, mereka berdua beristirahat.
"Bawa roti itu kemari," kata Nabi Isa AS kepada temannya.
Lelaki itu memberikan dua potong roti.
"Mana yang sepotong lagi?" tanya nabi Isa.
"Aku tidak tahu."

Setelah masing-masing makan sepotong roti, keduanya kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tepi laut. Nabiyullah Isa menggelar sajadahnya di atas laut, mereka berdua lalu berlayar ke seberang.

"Demi Allah yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu, siapakah yang telah makan sepotong roti itu?" tanya Nabi Isa kepada temannya."Aku tidak tahu."

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan mereka melihat seekor kijang. Setelah dipanggil, kijang itu pun datang menghampiri beliau. Beliau lalu menyembelih, memanggang dan memakannya. Sehabis makan, Nabi Isa berkata kepada tulang-tulang kijang, "Berkumpullah kamu." Tulang-tulang itu pun berkumpul. Beliau lalu berkata, "Dengan izin Allah, jadilah kalian seperti semula." Tulang-tulang itu segera bangkit dan berubah menjadi kijang."Demi Allah yang telah memperlihatkan mukjizat ini kepadamu, siapakah yang telah makan sepotong roti itu?" tanya Nabi Isa AS."Aku tidak tahu," jawab temannya.

Nabiyullah Isa bersama temannya kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai pada sebuah tempat. Mereka duduk beristirahat. Nabiyullah Isa memungut tiga bongkahan batu.
"Dengan izin Allah, jadilah emas," kata Nabi Isa AS.
Batu itu pun segera berubah menjadi emas.
"Ini untukku, yang ini untukmu dan yang satu lagi untuk orang yang telah makan sepotong roti itu," kata Nabiyullah Isa:
"Akulah yang telah makan roti itu," kata temannya.
"Ambillah semua emas ini, aku tak mau berteman dengan pendusta," kata beliau sambil meninggalkan temannya.

Lelaki tadi lalu duduk di dekat emasnya. Ia tidak mampu membawa ketiga-tiganya, tetapi juga tidak rela meninggalkan sebagian darinya. Ketika ia sedang memikirkan cara membawa ketiga bongkahan emas itu, datanglah dua orang lelaki. Melihat keindahan emas itu, timbul keinginan di hati kedua orang itu untuk memilikinya.
"Kalian tidak pantas mengambil milikku dan kalian sama sekali tidak akan mendapatkan bagian," kata pemilik emas.

Melihat mereka berdua hendak membunuhnya, ia segera berkata, "Emas ini kita bagi saja, satu untukku dan sisanya untuk kalian berdua."Mereka pun rela dengan pembagian itu.

"Ambillah secuil dari bongkahan emas ini, pergilah beli makanan," kata pendatang kepada pemilik emas.
Setelah mengambil secuil emas, ia lalu pergi membeli makanan untuk mereka bertiga.

"Untuk apa aku membagi emas itu dengan mereka berdua, emas itu kan milikku," pikir si pemilik emas. Timbullah niat untuk meracuni makanan.

"Jika mereka berdua mati, emas itu akan jatuh ke tanganku lagi," pikir si pemilik emas.
Ia lalu membeli racun yang paling ganas, siapa pun yang memakannya pasti akan mati seketika. Racun itu lalu ia taburkan di atas makanan mereka.

Kedua pendatang tadi juga mempunyai rencana, "Mengapa kita harus memberi dia. Jika telah kembali, kita bunuh saja dia. Emas itu semua akan menjadi menjadi milik kita berdua."

Mereka berdua kemudian membunuh si pemilik emas. Dan dengan perasaan senang karena mendapat emas lebih banyak, kedua lelaki itu kemudian menyantap dengan lahap makanan yang baru saja dibeli.
Beberapa tahun kemudian Nabi Isa bersama kaumnya melewati tempat itu. Mereka melihat tiga bongkahan emas dan tiga kerangka manusia.

"Lihatlah bagaimana dunia memperlakukan mereka," kata Nabi Isa AS kepada kaumnya.

Beliau kemudian berdiri di depan emas dan berkata, "Jadilah seperti asalmu." Emas itu pun kembali menjadi batu.

SEBUAH KISAH BUKTI CINTA PADA NABI

SEBUAH KISAH BUKTI CINTA PADA NABI


Alkisah, di negeri Arab ada seorang janda miskin yang mempunyai anak. Karena anaknya menangis
kelaparan, janda itu terpaksa harus meninggalkan rumahnya untuk berkelana mencari Uang. Di depan
sebuah masjid, ia bertemu seorang muslim dan meminta bantuan.

"Anakku yatim dan kelaparan, aku minta pertolonganmu", kata janda itu.
"Mana buktinya?" Lelaki muslim bertanya.

Janda itu tidak bS membuktikan karena ia sendiri orang asing di tempat itu. Akhirnya lelaki muslim itu tidak
menolongnya. Setelah itu, janda miskin bertemu dengan seorang Majusi. Ia pun meminta pertolongannya. Orang
Majusi itu membawanya ke rumahnya dan memuliakannya dengan memberikan Uang dan pakaian.

Pada malam harinya, lelaki muslim yang menolak menolong itu bermimpi bertemu dengan Rasulullah
saw. Semua orang mendatangi Nabi dan Nabi menyambut orang-orang itu dengan baik. Ketika tiba
giliran lelaki itu mendatang Rasulullah Saw, Nabi mengusirnya dan menyuruhnya pergi.

Lelaki itu berteriak, "Ya Rasulullah, aku ini umatmu yang mencintaimu juga."
Rasulullah Saw bertanya, "Mana buktinya?"

Lelaki itu tersadar bahwa Rasulullah Saw menyindirnya karena ia telah meminta bukti saat diminta
pertolongan. Ia menangis. Rasulullah saw lalu menunjukkan sebuah taman yang indah dan gedung
yang megah di surga.

"Lihat ini", kata Rasulullah saw, "seharusnya aku berikan semua ini untukmu.
Tapi karena kau tidak menolong janda dan anak yatim itu, aku berikan semua ini pada seorang Majusi."

Pagi harinya, lelaki itu terbangun. Dia lalu mencari janda miskin dan ternyata dia menemukannya
sedang berada di rumah seorang Majusi.

"Ikutlah kau bersamaku," pinta lelaki itu kepada si janda.

Tetapi orang Majusi tidak mau menyerahkannya.

"Aku akan beri kau ribuan dinar asal kau mau menyerahkannya," lelaki muslim berkata.

Orang Majusi tetap tidak mau. Lelaki muslim itu akhirnya jengkel dan berkata, "Janda ini adalah orang Islam. Seharusnya yang menolongnya adalah sesama
muslim juga!"

Orang Majusi itu lalu bercerita, "Tadi malam aku bermimpi bertemu Rasulullah Saw. Beliau berkata bahwa beliau akan memberikan kepadaku surga yang semula akan diberikan kepadamu. Ketahuilah bahwa pagi ini ketika aku terbangun, aku langsung masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah Saw
karena aku telah menunjukkan bukti bahwa aku adalah salah seorang pecintanya."

Lelaki Majusi itu telah menunjukkan bukti kecintaannya kepada Rasulullah Saw dengan memberikan pertolongan kepada orang yang memerlukan dg ikhlas

- KISAH MENCARI ORANG YANG LEBIH HINA -

- KISAH MENCARI ORANG YANG LEBIH HINA -




Sayyid Al Imam Abu Bakr Al Aidarus Ibn Abdullah Al ‘aidarus Al Akbar Ar, dia adalah seorang anak yang masih kecil dan ayahnya ( Al Imam Abdullah Al ‘Aidarus ) adalah seorang ‘arif billah berkata: ” Aku sudah membaca kitab Ihya ulumuddin, aku sudah menghafalnya, dan aku pun telah mengamalkannya.”,

Maka putranya Al Imam Abu Bakr ketika masih kecil sudah diajarkan Alqur’an, setelah ia hafal Al qur’an ayahnya mulai membacakan kitab Ihya ulumuddin yang menjelaskan tentang mengobati penyakit – penyakit hati, seperti riya’ mengobatinya begini, sombong mengobatinya begini, iri dan dengki mengobatinya begini, dan lain sebagainya,

maka berkata Al Imam Abu Bakr: ” Ayah apakah ada orang yang semacam ini?”
Subhanallah kenapa ia bertanya demikian?, karena di hatinya tidak ada penyakit seperti itu, sejak kecil sudah dididik mencintai Allah dan RasulNya maka tidak ada penyakit hati di hatinya.

Maka ayahnya pun terdiam kemudian berkata:
” Sekarang engkau pergilah ke pasar dan carilah orang yang lebih hina darimu”,

Maka ia pun pergi ke pasar dan sesampainya di pasar ia melihat orang yang sedang berbuat jahat, ia berkata pada dirinya:
” Orang ini lebih hina daripada aku, tetapi jika ia bertobat dan beribadah kepada Allah dan ia lebih taat daripada aku maka berarti ia lebih mulia daripada aku”

Terus ia mencari lagi tetapi tidak ia temukan orang yang lebih hina darinya. Semua pendosa bisa saja Allah terima tobatnya dan Allah memberinya hidayah kemudian ia berubah menjadi orang shalih,

maka akhirnya ia menemukan seekor anjing yang penyakitan, ia berkata:
” Aku pasti lebih mulia darinya, tetapi jika aku harus melewati neraka terlebih dahulu berarti anjing itu yang lebih mulia”, karena anjing tidak masuk neraka, maka ia kembali kepada ayahnya dan ayahnya bertanya :

” Apakah sudah engkau temukan orang yang lebih hina darimu?”, maka ia pun menjawab: ” Tidak ada wahai ayah”,

Ayahnya bertanya lagi: ” Dalam satu pasar tidakkah kau temukan seorang pun yang lebih hina darimu? “

, ia menjawab: ” Tidak ada ayah, walaupun ia adalah orang yang berbuat dosa, tetapi jika ia bertobat dan Allah terima tobatnya dan ia dimuliakan oleh Allah maka ia akan lebih mulia daripada aku, lalu aku menemukan seekor anjing yang penyakitan dan kukatakan bahwa anjing itu lebih hina daripada aku, lalu aku berfikir wahai ayah, kalau senadainya aku masuk neraka maka tentunya anjing itu akan lebih mulia daripada aku, karena ia tidak masuk kedalam neraka”,

Mendengar hal itu maka ayahnya berkata: ” Sekarang engkau keluarlah dari Tarim untuk melanjutkan belajarmu di luar bimbinganku “

Maka setelah selesai dengan tarbiyah yang suci dari sang ayah ia pun menuju guru – gurunya yang lain.

seorang bijak berkata: "manakala kau masih merasa ada seseorang yg lebih hina dari dirimu maka ketahuilah bahwa itu adalah benih2 kesombonganmu"

Di nukil dari ceramah Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa. http://majelisrasulullah.org/

*** SEBUAH KISAH KEAJAIBAN SHALAWAT *** -



Ibnul Jawzi mengutip berita yang disampaikan oleh Abdul Wahid bin Zayd.

Abdul Wahid bin Zayd bercerita, ‘Suatu kali aku keluar rumah menuju Baytullah al-Haram untuk melaksanakan haji. Di tengah jalan aku ditemani oleh seseorang yang seakan-akan tidak mau berdiri dan duduk, tidak mau datang dan pergi, tidak mau makan dan minum, tidak mau tidur, kecuali ia banyak membaca shalawat kepada Nabi. Lalu aku bertanya kepadanya mengapa ia banyak membaca shalawat.

Ia menjawab, ‘Aku akan menceritakan kepadamu sebuah kisah ajaib. Suatu hari aku pergi menuju Mekkah bersama ayahku. Dalam perjalanan, kami singgah di suatu kampung. Pada saat itulah, aku tertidur. Dalam tidurku aku mendengar suara yang berkata kepadaku, ‘Wahai Fulan, bangunlah. Sesungguhnya Allah sudah mematikan ayahmu dalam keadaan wajahnya hitam legam’. Seketika itu juga aku terbangun, dan aku lihat ayahku sedang berbaring dalam keadaan tertutup wajahnya. Lalu aku singkap kain yang menutupi wajah ayahku, dan aku dapatkan ayahku sudah meninggal dan wajahnya hitam legam. Aku begitu sedih dengan kejadian itu, sehingga aku kembali tertidur. Pada saat tidur itu, aku bermimpi melihat 4 malaikat yang berwajah hitam di dekat kepala ayahku, dan 4 malaikat berwajah hitam di dekat kaki ayahku. Di tangan malaikat-malaikat tersebut ada tongkat-besi yang diambil dari neraka untuk menyiksa ayahku. Pada saat aku memperhatikan apa yang akan dilakukan malaikat-malaikat tersebut kepada ayahku, maka datanglah seorang laki-laki yang dari wajahnya memancar cahaya.

Laki-laki itu mendatangi para malaikat tersebut sambil berkata, ‘Tinggalkan dia’. Maka malaikat-malaikat tersebut meninggalkan ayahku sampai aku tidak lagi melihat 4 malaikat itu. Lalu laki-laki itu mendatangi ayahku dan mengusap wajah ayahku dengan tangannya. Maka, wajah ayahku menjadi sangat putih, melebihi putihnya salju, dan wajah ayahku menjadi bersinar.

Lalu laki-laki itu mendatangiku dan berkata, ‘Allah sudah memutihkan wajah ayahmu dan menghilangkan hitam dari wajahnya’.

Aku bertanya kepadanya, ‘Siapakah engkau? Semoga Allah membalas perbuatanmu dengan kebaikan’.

Laki-laki itu berkata, ‘Aku adalah Muhammad Rasulullah’. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, apa sebabnya engkau mendatangi ayahku?’

Rasulullah menjawab, ‘Semasa hidupnya, ayahmu memang sering melakukan kesalahan. Meskipun demikian, ayahmu banyak membaca shalawat kepadaku. Ketika ia sedang dicabut nyawanya, ia minta tolong kepada Allah dengan perantaraanku. Aku adalah penolong bagi siapa saja yang banyak membaca shalawat kepadaku’.

Setelah itu, aku terbangun dari tidurku. Lalu aku membuka kain yang menutup wajah ayahku, dan aku lihat wajah ayahku menjadi putih. Aku segera mengurus kematiannya dan menguburkannya. Sejak saat itu, aku tidak pernah lepas dari membaca shalawat kepada Nabi’.

Mengomentari kisah tersebut, Ibnul Jawzi berkata, ‘Kalau shalawat dapat membuat wajah bersinar di saat mati, maka lebih layak lagi kalau shalawat juga dapat membuat hati menjadi bersinar ketika masih hidup. Atas dasar itulah, Allah menjadikan pribadi Rasulullah sebagai ‘sinar’. Allah menamai diri Rasulullah sebagai ‘pelita yang menyinari’ (sirajan muniran)’.

Subhanallah, begitulah dahsyatnya shalawat.Sungguh, shalawat dapat membuat wajah kita enak dipandang, dan membuat hati kita lembut bagai salju.

Jika datang malam atau hari Jumat, maka perbanyaklah membaca shalawat. Kata Rasululullah saw.,

‘Sesungguhnya hari terbaikmu adalah Jumat. Oleh karena itu, perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawatmu itu akan naik (sampai) kepadaku. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana bisa shalawat kami sampai kepadamu ketika engkau sudah dikebumikan?’. Rasul menjawab, ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.’
(Hadits shahih, riwayat Abu Dawud, al-Bayhaqi, dan al-Hakim)

Mari kita ucapkan shalawat kepada Nabi: Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad…

Mudah, bukan?

Sumber Ustadz Aziem