bLink

Tuesday, August 14, 2012

Kisah Syuraih al-Qadhi tentang Istrinya

Diriwayatkan bahwa Syuraih al-Qadhi bertemu dengan
asy-Sya'bi pada suatu hari, lalu asy-Sya'bi bertanya
kepadanya tentang keadaannya di rumahnya.


Ia
menjawab: "Selama 20 tahun aku tidak melihat sesuatu yang membuatku marah terhadap isteriku. "


Asy-Sya'bi bertanya, "Bagaimana itu terjadi?"

Syuraih
menjawab, "Sejak malam pertama aku bersua dengan isteriku, aku melihat padanya
kecantikan yang menggoda dan kecantikan
yang langka.

Aku berkata pada diriku: ‘Aku akan bersuci dan
shalat dua rakaat sebagai tanda syukur kepada Allah.
Ketika aku salam, aku mendapati isteriku ada di
belakangku ikut menunaikan shalat dengan shalatku
dan salam dengan salamku. Maka ketika rumahku telah sepi dari para Sahabat dan
rekan-rekan, aku berdiri menuju kepadanya. Aku
ulurkan tanganku keubun-ubunnya,

maka dia berkata,
'Perlahan, wahai Abu Umayyah, seperti keadaanmu
semula.'

Kemudian isteriku berkata, "Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya dan
memohon pertolongan kepada-Nya. Semoga
shalawat dan salam atas Muhammad dan
keluarganya. Sesungguhnya aku adalah wanita
asing yang tidak mengetahui akhlakmu, maka
jelaskanlah kepadaku apa yang engkau sukai sehingga aku akan melakukannya dan apa yang
tidak engkau sukai sehingga aku
meninggalkannya."

Dia lalu mengatakan, 'Bisa jadi dahulu ada perempuan yang ingin menikah denganmu dan
begitu juga aku, ada laki-laki yang ingin
menikah denganku. Namun Allah telah
menggariskan pertemuan ini. Engkau telah
berkuasa penuh terhadap diriku, maka
lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Apabila ada kebaikan dalam
pernikahan ini maka pertahankanlah hubungan
ini dengan cara yang baik dan bila ada
keburukan sehingga harus berpisah maka
ceraikanlah dengan cara yang baik pula. Aku
ucapkan sampai di sini saja, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu .'


Syuraih berkata,
"Demi Allah wahai asy-Sya'bi, ia membuatku terpaksa
berkhutbah di tempat tersebut. Aku katakan, 'Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya
dan memohon pertolongan kepada-Nya. Semoga
shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sesungguhnya engkau mengatakan suatu pembicaraan
yang bila engkau teguh di atasnya, maka itu menjadi
keberuntunganmu, dan jika engkau meninggalkannya,
maka itu menjadi hujjah (keburukan) atasmu. Aku
menyukai demikian dan demikian, dan tidak menyukai
demikian dan demikian. Bila ada kebaikan mari kita laksanakan, bila ada keburukan mari kita singkirkan.’


Ia bertanya, 'Bagaimana pandanganmu dalam
mengunjungi keluargaku?'

Aku menjawab, 'Aku tidak
ingin membuat bosan mertuaku.' Ia bertanya, 'Siapa yang engkau sukai dari para
tetanggamu untuk masuk ke rumahmu sehingga aku
akan mengizinkannya, dan siapa yang tidak engkau
sukai sehingga aku tidak mengizinkannya masuk?'

Aku
mengatakan, 'Bani fulan adalah kaum yang shalih, dan
Bani fulan adalah kaum yang buruk.'"


Syuraih berkata, "Wahai Sya’bi pada malam itu kami menikmati malam pertama, hati berbunga-
bunga penuh dengan bahagia dan senang. Aku
hidup bersamanya selama setahun dan aku
tidak melihat melainkan sesuatu yang aku sukai. Hingga di penghujung tahun ketika aku pulang dari
majelis Qadha' (peradilan), tiba-tiba ada seorang wanita
tua di dalam rumahku.

Aku bertanya, 'Siapa dia?'
Isteriku menjawab, 'Dia adalah ipar perempuanmu.'
Aku senang bertemu dengannya. Ketika saya duduk berhadapan dengan iparku, dia
mengucapkan salam dan akupun menjawabnya.

Saya
bertanya, ‘Siapa anda?’

Ia menjawab, ‘Saya ipar
perempuanmu.’

Saya berkata, ‘Semoga Allah
mengakrabkanmu dengan kami?’

Lalu bertanya kepadaku, 'Bagaimana pendapatmu
tentang isterimu?'

Aku menjawab, 'Dia adalah sebaik-
baik isteri.'

Ia berkata, 'Wahai Abu Umayyah, sungguh tidak ada kondisi yang paling buruk bagi wanita kecuali dalam
dua keadaan, ketika melahirkan anak atau
ketika mendapatkan perhatian yang lebih dari
suaminya. Sehingga bila kamu meragukan
isterimu maka hendaklah kamu ambil cambuk.
Demi Allah, tidak ada perkara yang paling buruk bagi seorang laki-laki kecuali masuknya wanita
yang manja ke dalam rumahnya. Oleh karena
itu, hukumlah dengan hukuman yang engkau
suka, dan didiklah dengan didikan yang engkau
suka.'

Saya berkata, ‘Tenanglah wahai ibu, sungguh aku
telah mendidik dan mengajari beberapa adab dengan
baik dan aku melatihnya untuk hidup secara baik.’

Ia lalu berkata, ‘Apakah senang bila para kerabat
isterimu berkunjung kerumahmu?’

Saya menjawab,
‘Silahkan berkunjung kapan saja.’

Syuraih berkata, ‘Kerabat isteriku datang setiap
penghujung tahun dan memberi nasehat seperti itu. Aku tinggal bersama isteriku selama 20 tahun,
dan aku tidak pernah menghukumnya mengenai
sesuatu pun, kecuali sekali, dan aku merasa
telah menzhaliminya.”
Demikianlah sebuah kisah yang terdapat di Ahkaamun
Nisaa', lbnul Jauzi (hal. 134-135) dan Ahkaamul Qur-an,
lbnul 'Arabi (I/417).


---Smoga mengispirasi mu wahai calon2 istri ahli
syurga :))--

No comments:

Post a Comment